PENERAPAN BRAIN GYM, PUZZLE THERAPY DAN HANDYCRAFT TRAINING, SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KUALITAS HIDUP LANSIA DUSUN LEMPUYANGAN, GEBUGAN, KAB. SEMARANG
(Margiyati Margiyati, Novita Wulan sari, Mimin Indah Lestari, Anisa Sulistyaningtyas, Tria Friska Ningrum)
DOI : 10.55606/pkmsisthana.v2i2.44
- Volume: 2,
Issue: 2,
Sitasi : 0 01-Dec-2020
| Abstrak
| PDF File
| Resource
| Last.19-Aug-2025
Abstrak:
Proses menua menimbulkan permasalahan baik secara fisik, biologis, mental maupun sosial ekonomi. Lansia merasa terbatas aktivitasnya, sering sakit, lingkungan kurang bersahabat, dan tidak percaya diri dengan penampilan fisiknya dan ini menjadi tanda rendahnya kualitas hidup lanjut usia karena mereka tidak menikmati masa tuanya. Hasil survey menggunakan Mini Mental Status Exam (MMSE) diperoleh data bahwa lansia sebanyak 45 orang yang terdaftar di Posyandu Setya Manunggal III Dusun Lempuyangan Bulan Januari 2020 menunjukkan yang mengalami penurunan kognitif sedang sebanyak 13 orang, penurunan kognitif berat sebanyak 5 orang. Hasil wawancara dengan kader lansia didapatkan data yang banyak mengalami pikun dikarenakan lansia hanya di rumah tanpa adanya aktivitas lain karena adanya keterbatasan mobilitas fisik. Kader sendiri oleh penanggunggjawab BKL (Bina Keluarga Lansia) dari kecamatan Bergas sudah diarahkan untuk memberikan edukasi kepada lansia dan keluarga, baik itu bisa berupa permainan ataupun memberikan pelatihan kerajinan tangan, namun karena keterbatasan informasi, minimnya dana operasional, dan kurangnya kemampuan kader menjadikan program tersebut hanya wacana. Analisis fenomena tersebut menjadi latar belakang tim pengabdian masyarakat Akper Kesdam IV/Diponegoro bekerjasama dengan Puskesmas Bergas untuk melaksanakan kegiatan bertema, “ Penerapan Brain Gym, Puzzle Therapy, dan Handycraft Training sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Hidup Lansia Dusun Lempuyangan, Gebugan, Kab.Semarang”.
|
0 |
2020 |
EDUKASI TENTANG SELF MANAGEMENT PASIEN GAGAL GINJAL YANG MENJALANI HEMODIALISIS DI RS dr. SOEDJONO MAGELANG
(Endro Haksara, Ainnur Rahmanti, Adi Irawan, Akas Tri Wicaksono, Dedy Purba Winarto, Gita Indah Lestari, Grenada Nabella Putri)
DOI : 10.55606/pkmsisthana.v2i2.42
- Volume: 2,
Issue: 2,
Sitasi : 0 01-Dec-2020
| Abstrak
| PDF File
| Resource
| Last.19-Aug-2025
Abstrak:
PGK merupakan suatu proses patofisiologi dengan etiologi beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif dan umumnya berakhir dengan gagal ginjal. Selanjutnya gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang reversible, pada suatu derajat yang memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap, berupa dialysis atau transplantasi ginjal. Uremia adalah suatu sindroma klinik dan laboratorik yang terjadi pada semua organ, akibat penurunan fungsi ginjal pada penyakit ginjal kronik (Suwitra, 2009).
Gejala sindroma uremia dini ialah gangguan fungsi gastrointestinal. Penderita merasa mual-mual, muntah-muntah dan tidak nafsu makan. Gejala-gejala tersebut diduga akibat timbunan metabolit, antara lain: metilguanidin, asam guanidinosuksinat, asam parahidroksi-fenilasetat, fenol, indol, asam-asam aromatik, dan senyawa-senyawa amin. Metabolit-metabolit tersebut berasal dari degradasi protein (Syaifuddin, 2006).
Gejala gastrointestinal yang lain ialah kerusakan epitel dan perdarahan, mulut kering, lidah terasa pahit, perdarahan gusi, hematemesis, melena. Kerusakan epitel dan gangguan fungsi epitel, diduga karena iritasi oleh timbunan metabolit dan gangguan metabolisme sel-sel- epitel. Gangguaan juga terjadi pada epitel kulit, garukan karena gatal meninggalkan ekskoriasi ditungkai, lengan dan di badan. Rasa gatal diduga akibat timbunan atau endapan kalsium dan ureum di dermis. Gejala kardiovaskuler dapat menyertai PGK, hipertensi, jantung hipertensif, payah jantung kongesif, perikarditis uremik, hemoperikardium, tamponade jantung (Syaifuddin, 2006).
|
0 |
2020 |
Revitalisasi Posyandu Balita Nusa Indah dalam upaya peningkatan pengetahuan kader tentang gizi Balita di RW 5 Kelurahan Rowosari Kecamatan Tembalang Kota Semarang
(Erni Suprapti, Diana Dayaningsih, Febri Santosa, Mimin Indah Lestari, Kistia Rita Santi, Muhammad Ivan savero, Ovi Berly W)
DOI : 10.55606/pkmsisthana.v2i2.43
- Volume: 2,
Issue: 2,
Sitasi : 0 01-Dec-2020
| Abstrak
| PDF File
| Resource
| Last.19-Aug-2025
Abstrak:
Balita adalah masa yang membutuhkan perhatian ekstra baik bagi orang tua maupun bagi kesehatan. Perhatian harus diberikan pada pertumbuhan atau perkembangan, status gizi sampai pada kebutuhan akan imunisasi. Status gizi balita merupakan hal penting yang harus diketahui oleh setiap orang tua, perlunya perhatian lebih dalam tumbuh kembang di usia balita didasarkan fakta bahwa kurang gizi yang terjadi pada masa emas ini bersifat irreversibel atau tidak bisa pulih kembali (Marimbi, 2010). Gizi kurang adalah gangguan kesehatan akibat kekurngan atau ketidakseimbangan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan, aktivitas berfikir dan semua hal yang berhubungan dengan kehidupan. Kurang gizi masih merupakan permasalahan serius bagi anak-anak di Indonesia tidak terkecuali anak yang berasal dari perkotaan. Hampir seluruh daerah di Indonesia melaporkan adanya kasus gizi kurang bahkan gizi buruk di wilayahnya. Masyarakat RW 5 kelurahan Rowosari kecamatan Tembalang kota Semarang merupakan Sebagian besar ibu rumah tangga memiliki anak yang berusia antara bayi hingga remaja. Dari 90 balita yang ada di RW 5 Kelurahan Rowosari Kecamatan Tembalang Semarang Kota, 7 balita beresiko tinggi mengalami gizi kurang. Berdasarkan data bulan November 2019, 7 balita tersebut mengalami penurunan berat atau berat badan yang menetap tiap bulannya. Sebanyak 14% ibu balita di RW 5 tidak mengetahui makanan sehat untuk balita di atas tiga tahun. Sebanyak 17% ibu balita membiarkan anaknya jika tidak mau makan.Kader Posyandu tidak pernah memberikan penyuluhan kesehatan kepada ibu yang mempunyai balita yang pengalami penurunan Berat Badan maupun Balita yang masuk dalam kategori status gizi kurang.Berdasarkan permasalahan serta peluang yang telah dijelaskan diatas, TIM Pengabdian masyarakat ingin melakukan kegiatan pengabdian masyarakat berupa Revitalisasi Posyandu Balita Nusa Indah dalam upaya peningkatan pengetahuan kader tentang gisi Balita , dengan tujuan mengoptimalkan peran kader dalam upaya meningkatkan pengetahuan tentang gizi Balita di Posyandu Nusa Indah RW 5 Kelurahan Rowosari Kecamatan Tembalang Kota Semarang
|
0 |
2020 |
SCREENING OF ACIT SULPHATE SOILS FUNGI FROM SOUTH KALIMANTAN AS SOURCE OF EXTRACELULAR ENZYMES
(Dwi Ningsih Susilowati, Indah Sofiana, Kristina Dwi Atmini, Erny Yuniarti)
DOI : 10.24246/agric.2020.v32.i1.p65-82
- Volume: 32,
Issue: 1,
Sitasi : 0 16-Oct-2020
| Abstrak
| PDF File
| Resource
| Last.07-Jul-2025
Abstrak:
Kalimantan acid sulphate land has the potential to be developed into productive land, with good land optimization. Utilization of rhizosphere microorganism diversity, especially mold can potentially provide a solution in optimizing agricultural land, namely the ability to produce extracellular enzymes. This study aims to determine the potential of mold originating from acid sulphate fields in producing extracellular enzymes (pectinase, chitinase, glucanase, cellulase, and phosphatase). The study was conducted in June-July 2019 at the Microbiology Laboratory, Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development. Screening of extracellular enzyme-producing fungi was carried out on selection media. The results obtained by some isolates have the ability to produce extracellular enzymes. Indications of the ability of mold to produce extracellular enzymes are the presence of clear zones in the selection medium. In pectinase, chitinase and glucanase testing all isolates showed negative results. Potential isolates in producing extracellular enzymes include Penicillium sp. Paddy 4.1 (cellulolytic index 2.43), Clonostachys sp. KRMT 17.9 and Penicillium singorense KLK 13.7 (proteolytic indices 3.97 and 3,00, respectively). The difference in index values ??indicates the variation in the level of enzyme activity.
|
0 |
2020 |
PENINGKATAN PEMAHAMAN SISWA SMA NEGERI I BOJA MENGENAI SANKSI HUKUM PELANGGARAN LALU LINTAS YANG DILAKUKAN OLEH ANAK DI BAWAH UMUR
(Tri Mulyani, Efi Yulistyowati, Dhian Indah Astanti)
DOI : 10.26623/kdrkm.v1i1.2408
- Volume: 1,
Issue: 1,
Sitasi : 0 27-Jun-2020
| Abstrak
| PDF File
| Resource
| Last.09-Jul-2025
Abstrak:
<p>Berdasarkan UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan hal-hal yang harus diperhatikan dalm berkendara adalah menghormati pesepeda dan pejalan kaki, tidak boleh menaikan motor ke trotoar, harus berkonsentrasi dalam berkendara, mengetahui hak pejalan kaki, kalau mau berbelok, berbalik arah wajib menyalakan lampu isyarat, memasang plat nomer, mengenakan helm dan wajib memiliki SIM. Bagi anak di bawah umur sulit memenuhi aturan tersebut terutama dalam hal kepemilikan SIM, karena mencari SIM harus 17 tahun. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kelabilan anak sehingga sering menyebabkan kecelakaan. Berdasarkan data dari Korlantas Polri pada periode trimester ketiga 2015 terjadi pelanggaran sebanyak 28.544 kasus, sebagian besar dilakukan oleh anak di bawah umur. Anak di bawah umur berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak, dapat dikenai pertanggunjawaban pidana. Bagi anak berusia 12 hingga 14 dikenai sanksi tindakan dan usia 14 ke atas dikenai sanksi ½ hukuman orang dewasa. Berdasarkan fenomena ini, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Fakultas Hukum Universitas Semarang perlu melakukan sosialisasi dengan mengangkat permasalahan tentang peningkatan pemahaman terhadap Siswa SMA Negeri 1 Boja mengenai sanksi hukum pelanggaran lalu lintas oleh anak di bawah umur. Pengabdian ini dilakukan dengan cara ceramah dan Tanya jawab secara langsung dan evaluasi dengan penyebaran kuesioner sebelum dan sesudah kegiatan dilaksanakan. Hasil dari pengabdian kepada masyarakat yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pemahaman pemahaman Siswa SMA Negeri 1 Boja mengenai sanksi hukum pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh anak di bawah umur, menunjukkan adanya peningkatan 21,6%, itu artinya bahwa terdapat respon yang positif dari para siswa mengenai pentingnya peningkatan pemahaman mengenai sanksi hukum pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh anak di bawah umur.</p>
|
0 |
2020 |
Fenolik Total Fraksi Etil Asetat Daun Pelawan (Tristaniopsis merguensis Grifft.)
(Robby Gus Mahardika, Occa Roanisca, Fajar Indah Puspita Sari)
DOI : 10.24246/juses.v3i1p8-14
- Volume: 3,
Issue: 1,
Sitasi : 0 05-Apr-2020
| Abstrak
| PDF File
| Resource
| Last.07-Jul-2025
Abstrak:
Ekstrak aseton didapatkan dari daun Tristaniopsis merguensis Grifft menggunakan metode maserasi. Ekstrak aseton selanjutnya difraksinasi dengan metode partisi cair-cair dengan pelarut etil asetat. Penentuan kadar fenolik total dilakukan berdasarkan metode Follin-Ciocalteu dengan standar asam galat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fraksi etil asetat dari ekstrak aseton daun Tristaniopsis merguensis mengandung senyawa fenolik total 86,724 ± 1,83 mg GAE/g fraksi etil asetat kering. Berdasarkan spektrum FT-IR fraksi etil asetat ini mengandung senyawa yang memiliki gugus Ar-OH (fenolik), -OH (hidroksil), C=O (keton) dan C=C (aromatik). Gugus Ar-OH ini yang menandakan adanya senyawa fenolik pada fraksi etil asetat ekstrak aseton daun Tristaniopsis merguensis.
|
0 |
2020 |
PELATIHAN HOME CARE PERAWATAN TALI PUSAT PADA BAYI BARU LAHIR DI RT 34 RW 14 DUSUN GADUNGAN DESA KARANGANYAR KECAMATAN PONCOKUSUMO KABUPATEN MALANG
(Patemah Patemah Patemah, Nicky Danur Jayanti, Senditya Indah Mayasari)
DOI : 10.33366/japi.v4i2.1578
- Volume: 4,
Issue: 2,
Sitasi : 0 04-Jan-2020
| Abstrak
| PDF File
| Resource
| Last.07-Oct-2025
Abstrak:
Home care adalah pelayanan diberikan di rumah dengan melibatkan pasien dan keluarganya atau pemberi pelayanan yang lain. Layanan di rumah dalam wujud home care bisa dilakukan pada perawatan tali pusat bayi baru lahir setelah pulang di Rumah sakit, Rumah bersalin tau dari Bidan Praktek mandiri. Tali pusat merupakan penghubung antara plasenta dan bayi yaitu pada saat bayi masih di dalam rahim. Pemotongan tali pusat meninggalkan sisa yang harus dirawat setiap hari dengan benar, sampai akhirnya tali pusat lepas, yang meninggalkan tunggul tali pusat yang disebut pusar/udhel. Perawatan tali pusat yang terbaru tidak menggunakan alkohol maupun bethadin solution, namun cukup menggunakan kassa steril. Perawatan tali pusat prinsipnya adalah bersih dan kering sebagai perawatan terbaik dan melalui penelitian terbukti dapat mempercepat lepasnya tali pusat. Lepasnya ujung tali pusat berkisar 7-10 hari setelah bayi lahir, bisa juga 15-18 hari bahkan bisa lebih. Cukup mudah dan sederhana dalam perawatan tali pusat, akan tetapi apabila tidak dilakukan dengan benar akan menyebabkan infeksi yang serius pada bayi. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu kader Posyandu, ibu nifas dalam memberikan perawatan tali pusat pada bayi dirumah. Solusi yang ditawarkan oleh tim pelaksana adalah meningkatkan peran dan fungsi kader Posyandu dan ibu nifas melalui pelatihan tentang Perawatan Tali Pusat Pada Bayi Baru Lahir. Pendampingan pada kader Posyandu selama proses pelaksanaan kegiatan. Monitoring dan evaluasi oleh bidan pelaksana terhadap kader dalam pemantauan perwatan talipusat bayi baru lahir. Rangkaian kegiatan ini dilakukan selama 3 bulan (Juli-September 2018). Kegiatan ini mencapai hasil yakni terbentuknya kelompok kader Home Care Perawatan Tali Pusat Pada Bayi Baru Lahir” di RT 34 RW 14 Dukuh Gadungan Desa Karanganyar Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Tersedianya sarana dan prasarana penunjang kegiatan seperti buku panduan, alat alat dan bahan perawatan perawatan tali pusat, lembar perawatan tali pusat.
|
0 |
2020 |
IMPLEMENTASI MODEL ROBOT EDUKASI MENGGUNAKAN MIKROKONTROLER ATMEGA8 UNTUK ROBOT PEMADAM API
(Devid Prastyawan, Bambang Eka Purnama, Indah Uly Wardati)
DOI : 10.51903/jtikp.v8i2.173
- Volume: 8,
Issue: 2,
Sitasi : 0 07-Aug-2017
| Abstrak
| PDF File
| Resource
| Last.23-Jul-2025
Abstrak:
The urgent needs of the Industry as well as in the field of modernization diera other auto mover due to its limitations of personnel to work directly in the control or perform tasks dangerous or other duties. In addition to many experts in the field of robotic media is required to learn the use of the robot robotics education. Educational Robot was created so that costs are used for learning as well as research becomes much cheaper and affordable. As well as hardware easy to search. In fact a lot of barriers/difficulties faced in the manufacture of fire-based line follower robot finger using the appropriate sensor, mechanical problems or software. Creation robot line follower with ATmega8 Microcontroller-based extinguisher sensor photodioda this can be used as a learning tool or as a basis for the design of more complex robots. One of the most simple educational robots and is the basis of the movement of the robot Robotics line follower (follower line) that can be developed into a line follower robot fire extinguisher.
|
0 |
2017 |